ia tak mengucapkan selamat semacam kata hai aku kesepian
ia berbisik di gang dan lorong sepanjang kotamu
ia mengendap dalam langkahlangkah yang tak terpahami
dan tibatiba angin tak berhembus kau lalu meludah sepanjang jalan
hanya jalanjalan sepanjang kotamu dekil dan bau pesing
cat tembok yang mulai mengelupas ada di wajahmu
kusam dan menua aduh belum sempat aku raba
kotamu wajah tua itu
datang dan meminta dengan kenangankenangan cengeng
atau di pojok itu tempat biasa kita menghindari mimpimimpi
kita percakapkan apasaja dari dari presiden yang paling bangsat
sampai mampatnya wc di kamarmu
kita tertawa bersama tapi kupikir kau sedikit terlambat
waktu mungkin mulai tua di dirimu
sedang waktu ku semakin bocah saja
dengan terus membuat catatan semacam ini
Jumat, 19 Juni 2009
Selasa, 19 Mei 2009
sebuah sajak yang tak tahu bahwa dirinya bukan sajak yang bagus
aku berharap ia pergi
dan ia benarbenar meninggalkanku
akan kutaruh mana rasa ini
kian bertumpuk bersekongkol membunuh diriku
jangan lagulagu pop lagi jangan aku memohon matikan tv itu matikan
beri aku sore warna jingga bercampur biru kuning dan hitam
beri aku rasa dingin yang menjalar
beri aku kesendirian tapi bukan sepi
bila ia datang dan memberiku kabar yang sebenarnya
bila ia datang dan menyadarkanku untuk berpijak di tempat yang seharusnya
tak seharusnya membuatku cengeng lagi
membaca kalimatkalimatmu yang tergesa tak terselesaikan
membuatku tak pernah menyelesaikan diriku
beri aku buku beri aku buku yang maha luas yang tak kan pernah habis aku baca berabadabad
mungkin disana akan kuhabiskan waktu untuk mengerti dirimu
dan ia benarbenar meninggalkanku
akan kutaruh mana rasa ini
kian bertumpuk bersekongkol membunuh diriku
jangan lagulagu pop lagi jangan aku memohon matikan tv itu matikan
beri aku sore warna jingga bercampur biru kuning dan hitam
beri aku rasa dingin yang menjalar
beri aku kesendirian tapi bukan sepi
yang mematikan waktu
yang menggeretgeret ingatan masa lalu
yang tidak peduli dengan kehilangan
bila ia datang dan memberiku kabar yang sebenarnya
bila ia datang dan menyadarkanku untuk berpijak di tempat yang seharusnya
tak seharusnya membuatku cengeng lagi
membaca kalimatkalimatmu yang tergesa tak terselesaikan
membuatku tak pernah menyelesaikan diriku
beri aku buku beri aku buku yang maha luas yang tak kan pernah habis aku baca berabadabad
mungkin disana akan kuhabiskan waktu untuk mengerti dirimu
Senin, 11 Mei 2009
aku bertanya seolaholah ada jam tangan di pergelangan tangan mu
ah ternyata waktu tak sampaisampai
kau akan mudah sekali untuk mati
terbungkukbungkuk menahan laju jaman yang ternyata keropos
dan tumbang oleh pikiranpikiran mu sendiri
akan menjerumuskan anganangan menjadikan jam tangan sebagai tuhan
jadi kau masih setia pada janji
tak ada lagi yang suci dibawah matahari
tak ada lagi katakata yang pantas didengar
atau kita ke pantai saja membunuh sepisepi
membunuh diri kita sendiri dengan saling tikam
sampai kita coklat tua dan pikun
lalu aku akan bertanya tentang jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganmu
adakah ia menuntun waktu adakah ia isyarat bagimu untuk senantiasa bergegas
adakah ia ingataningatan lawas adakah ia pertanyaanpertanyaan yang tak terjawab
(ini samasekali bukan soal cinta
hanya kesempatan yang lepas dan tak kembali )
boleh kau tulis dilembar akhir bukumu
ia berjalan ketika sore hari ketika kau sedang menanti matahari yang tenggelam dan ia mengotori pandanganmu disanalah kau melepaskan diri untuk memunguti senja demi senja
ketika kau sadar ia tak pernah kembali lagi dalam dirimu
disitulah aku berharap mati bersamamu dengan sedikit getir sungguh
kau akan mudah sekali untuk mati
terbungkukbungkuk menahan laju jaman yang ternyata keropos
dan tumbang oleh pikiranpikiran mu sendiri
akan menjerumuskan anganangan menjadikan jam tangan sebagai tuhan
jadi kau masih setia pada janji
tak ada lagi yang suci dibawah matahari
tak ada lagi katakata yang pantas didengar
atau kita ke pantai saja membunuh sepisepi
membunuh diri kita sendiri dengan saling tikam
sampai kita coklat tua dan pikun
lalu aku akan bertanya tentang jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganmu
adakah ia menuntun waktu adakah ia isyarat bagimu untuk senantiasa bergegas
adakah ia ingataningatan lawas adakah ia pertanyaanpertanyaan yang tak terjawab
(ini samasekali bukan soal cinta
hanya kesempatan yang lepas dan tak kembali )
boleh kau tulis dilembar akhir bukumu
ia berjalan ketika sore hari ketika kau sedang menanti matahari yang tenggelam dan ia mengotori pandanganmu disanalah kau melepaskan diri untuk memunguti senja demi senja
ketika kau sadar ia tak pernah kembali lagi dalam dirimu
disitulah aku berharap mati bersamamu dengan sedikit getir sungguh
Kamis, 07 Mei 2009
ceritacerita sedih sepasang pengantin
ia ingin membagi ceritacerita tentang pasangan pengantin yang didengarnya
mungkin kau pernah mendengar nya juga atau janganjangan itu dirimu
yang membungkukbungkuk merangkai ceritacerita itu dengan seksama
i
sepasang mempelai itu kini menjelma kanak kanak
dan berhujan hujan semalaman
tapi waktu menjadikan kenangan itu akan berkepingkeping
luruh dalam titiktitik air ketika ia meledakkan kekasihnya dalam hujan
dan menggelontorkannya ke laut dengan sedikit senyum yang canggung
ii
ia mencintai kekasihnya karena cinta kini dijajakan sangat murah
mereka berjalan bergandengan dalam sore yang hujan
sisasisa tawa nya berceceran dilumpur yang basah
mengingatkan untuk segera pulang dan bergumul
setelah waktu yang dirasakan cukup mengecoh
ia membenamkan dirinya dalam malammalam yang gagal
berceloteh tentang pernikahannya yang penuh cacat dan airmata
iii
ia memeluk pengantinnya dan tak mau melepaskan
beberapa waktu kemudian ia peluk istrinya yang terlihat cerewet
yang terlihat tak proporsional
untuk cepatcepat melepaskan nyawanya
iv
dikecupnya kening istrinya itu penuh perasaan
tapi waktu gampang menyerah
diipalunya kening istrinya itu tanpa perasaan
v
pengantin wanita itu merasa menjadi serangga yang ringan melayanglayang
ketika suaminya menggendongnya masuk kepelaminan
dan waktu menjadikannya ia ratu serangga yang memakan kepala pasangannya
membiayai hidupnya yang semrawut
vi
dibiarkan cinta suaminya itu meruah dan ia mewadahinya tekun
“surga hanya permainan sebentar” bergumam pasrahnya
pagi ketika suaminya pergi ia memerankan surga bagi yang lain
mungkin kau pernah mendengar nya juga atau janganjangan itu dirimu
yang membungkukbungkuk merangkai ceritacerita itu dengan seksama
i
sepasang mempelai itu kini menjelma kanak kanak
dan berhujan hujan semalaman
tapi waktu menjadikan kenangan itu akan berkepingkeping
luruh dalam titiktitik air ketika ia meledakkan kekasihnya dalam hujan
dan menggelontorkannya ke laut dengan sedikit senyum yang canggung
ii
ia mencintai kekasihnya karena cinta kini dijajakan sangat murah
mereka berjalan bergandengan dalam sore yang hujan
sisasisa tawa nya berceceran dilumpur yang basah
mengingatkan untuk segera pulang dan bergumul
setelah waktu yang dirasakan cukup mengecoh
ia membenamkan dirinya dalam malammalam yang gagal
berceloteh tentang pernikahannya yang penuh cacat dan airmata
iii
ia memeluk pengantinnya dan tak mau melepaskan
beberapa waktu kemudian ia peluk istrinya yang terlihat cerewet
yang terlihat tak proporsional
untuk cepatcepat melepaskan nyawanya
iv
dikecupnya kening istrinya itu penuh perasaan
tapi waktu gampang menyerah
diipalunya kening istrinya itu tanpa perasaan
v
pengantin wanita itu merasa menjadi serangga yang ringan melayanglayang
ketika suaminya menggendongnya masuk kepelaminan
dan waktu menjadikannya ia ratu serangga yang memakan kepala pasangannya
membiayai hidupnya yang semrawut
vi
dibiarkan cinta suaminya itu meruah dan ia mewadahinya tekun
“surga hanya permainan sebentar” bergumam pasrahnya
pagi ketika suaminya pergi ia memerankan surga bagi yang lain
Senin, 27 April 2009
aku merasa tersesat datanglah
bayangkanlah sebuah sore yang gerimis di taman dan aku menunggu kamu tapi kamu tak datang
bayangkanlah ketika aku bersamamu bercakapcakap dengan mu tapi kau (pikiranmu) entah kemana
bayangkanlah aku duduk di bangku taman dengan baju yang basah dan air mengalir di mukaku dan saputanganku basah dan aku merindukan mu
bayangkanlah ketika aku merindukanmu (amat rindu) dan kau berkencan entah dengan siapa
bayangkanlah ketika aku membayangkan memelukmu dan kau diam saja
bayangkanlah dalam kepalaku siang yang panas lalulintas yang begitu padatpadatnya
tapi bila dirimu menjelma hujan di sore hari yang dibenci dan dikutuk semua orang lalu kau memanggilku lirih lewat titiktitik air di daunan itu :
aku akan datang tanpa payung dan menyapamu
aku akan senang berhujanhujan membiarkan air mengalir di wajahku
membiarkan bajuku basah membiarkan aku menggigil dalam dingin
membiarkan diriku sendiri menjadi hujan itu
yang berjalan sepi di loronglorong kotamu
yang membasahi jendela kamarmu
yang membuat lembab tempat tidurmu
dan kau akan selalu membenci diriku karena kau tak bisa kemanamana
sore ini aku adalah sebuah taman yang diguyur hujan dan kau tak ada
berharap seseorang yang tersesat duduk di bangku memandang langit yang gelap
memandang kemurunganku menggumamkan titiktitik air yang senantiasa basah
bayangkanlah ketika aku bersamamu bercakapcakap dengan mu tapi kau (pikiranmu) entah kemana
bayangkanlah aku duduk di bangku taman dengan baju yang basah dan air mengalir di mukaku dan saputanganku basah dan aku merindukan mu
bayangkanlah ketika aku merindukanmu (amat rindu) dan kau berkencan entah dengan siapa
bayangkanlah ketika aku membayangkan memelukmu dan kau diam saja
bayangkanlah dalam kepalaku siang yang panas lalulintas yang begitu padatpadatnya
tapi bila dirimu menjelma hujan di sore hari yang dibenci dan dikutuk semua orang lalu kau memanggilku lirih lewat titiktitik air di daunan itu :
aku akan datang tanpa payung dan menyapamu
aku akan senang berhujanhujan membiarkan air mengalir di wajahku
membiarkan bajuku basah membiarkan aku menggigil dalam dingin
membiarkan diriku sendiri menjadi hujan itu
yang berjalan sepi di loronglorong kotamu
yang membasahi jendela kamarmu
yang membuat lembab tempat tidurmu
dan kau akan selalu membenci diriku karena kau tak bisa kemanamana
sore ini aku adalah sebuah taman yang diguyur hujan dan kau tak ada
berharap seseorang yang tersesat duduk di bangku memandang langit yang gelap
memandang kemurunganku menggumamkan titiktitik air yang senantiasa basah
Sabtu, 11 April 2009
catatan iv
selamat datang engkau katakata yang tak kuundang
tranpolin ini untukmu akan kuhamparkan akan kuhamparkan
ingin aku bercerita tentang kesepian dengan menjajar botolbotol yang kosong dengan latar dimana kau bisa memandang lepas gurun pasir dengan rumput grinting yang terbawa angin juga debur laut di kejauhan atau angin itu sendiri debur itu sendiri yang datang lewat udara yang lembab
aku merindukan jalanjalan di pantai dengan matahari yang menyengat aku merindukan amis ikanikan di pelelangan dengan kerumunan lalat aku merindukan bau tubuhmu dan ingin memelukmu tak bosanbosan dengan takjub dan serampangan aku ingin menatapmu lekatlekat dalam kamar dengan pintupintu yang selalu terbuka membaui aroma laut
ingin aku bercerita tentang kepedihan seperti lagulagu cengeng yang mengalun lamatlamat sampai ketelingamu dengan terputusputus seperti mendengarnya dari youtube dengan sela percakapanmu untuk mengisahkan rasa sedih yang tak usaiusai dari sekeping sinetron televisi swasta
aku ingin bercerita tentang cerita itu sendiri
tentang hijau daun
tentang peternakan sapi
tentang sapi yang memakan daundaun
tentang cerita kita yang tak kemanamana
maka trampolin ini untukmu akan kuhamparkan akan kuhamparkan
tranpolin ini untukmu akan kuhamparkan akan kuhamparkan
ingin aku bercerita tentang kesepian dengan menjajar botolbotol yang kosong dengan latar dimana kau bisa memandang lepas gurun pasir dengan rumput grinting yang terbawa angin juga debur laut di kejauhan atau angin itu sendiri debur itu sendiri yang datang lewat udara yang lembab
aku merindukan jalanjalan di pantai dengan matahari yang menyengat aku merindukan amis ikanikan di pelelangan dengan kerumunan lalat aku merindukan bau tubuhmu dan ingin memelukmu tak bosanbosan dengan takjub dan serampangan aku ingin menatapmu lekatlekat dalam kamar dengan pintupintu yang selalu terbuka membaui aroma laut
ingin aku bercerita tentang kepedihan seperti lagulagu cengeng yang mengalun lamatlamat sampai ketelingamu dengan terputusputus seperti mendengarnya dari youtube dengan sela percakapanmu untuk mengisahkan rasa sedih yang tak usaiusai dari sekeping sinetron televisi swasta
aku ingin bercerita tentang cerita itu sendiri
tentang hijau daun
tentang peternakan sapi
tentang sapi yang memakan daundaun
tentang cerita kita yang tak kemanamana
maka trampolin ini untukmu akan kuhamparkan akan kuhamparkan
Senin, 30 Maret 2009
catatan iii
jika ia kupukupu ia akan menghilang ia akan dilupakan dalam sepersekian detik kali tatapan tapi tidak denganmu memandang matamu seperti memandang laut yang berkabut laut yang dalam tempat ikanikan purba berenang menunggu ajal serupa aku yang terus memandangmu tak bosanbosan menuju maut aku mencintai maut seperti cinta kepadamu yang terus melekat dan mengincar kelemahankelemahan untuk terus ada aku menanyakan pada ibu “apa yang harus kepersembahkan untuknya seseorang yang kalap dalam hidup dan menikmati setiap lelaki yang hinggap?” aku tak biasa untuk mengalah bu terkadang itu menyakitkan atas tubuhtubuhku yang demikian koyak menyakitkan membuka lembaranlembaran baju menanggalkan rasa sesal untuk masa muda yang histeris betapa entengnya hidup dalam hirupan kopikopi yang kau pesan betapa entengnya hidup ringan dan melayang dan aku ingin menukarnya aku merindukan mata sayu mu dan berharap tersesat didalamnya menjalani hamparan hidup yang berat dalam segala cemburucemburu
Langganan:
Postingan (Atom)
jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...
-
seperti dendam ia menekan bidang pipih di hadapannya yang selalu kau pijak itu telah terukur dalam benak presisi dalam tiap tarikan...
-
di lantai masjid ia mencium keramik yang serupa cermin yang memantulkan wajah kembaran mu juga cahaya yang dahulu pernah jauh berpisa...
-
jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...