Senin, 25 Januari 2010

suatu sore dengan katakata yang menjauh

aku menginginkan puisi datang pelanpelan seperti gerimis di kotamu
aku membayangkan ia yang akan membuatmu basah
kau akan menggigil semalaman mengutuk puisi yang terus merubungmu dalam sisasisa rasa sentimentil
kau enggan berbagi, katakata murung pergi tak sempat kau rekam
kau memagutku pelan dalam debardebar yang melemah
lalu aku kau juga sore menatap katakata yang menjauh dalam semburatsemburat sinar matahari di batas mata memandang
kita samasama tersuruk sesal dan saling mengutuk
detik itu, puisi cinta secara resmi telah ditutup

Sabtu, 23 Januari 2010

aku bertemu penyair palsu di sebuah pasar

akhirnya kita sepakat bertemu di sebuah pasar
tempat jual beli barang katamu
tempat tawar menawar menurutku
"ayo perlihatkan puisimu"
ia ragu mengeluarkan keranjang puisinya bermacammacam gaya telah ia kumpulkan dari jaman pantun sampai khairil dari jaman soneta sampai jokpin dibungkus rapi
"kamu mau yang mana?" tanya penyair itu
sebenarnya aku hanya ingin puisi yang sederhana semacam pertanyaan ini
apakah hujan ada ditempatmu
apakah kau baikbaik saja
apakah rindu itu masih kau rawat
apakah laci di mejamu masih tertutup rapat
apakah air masih menggenang di sana

tapi pasar terlalu bising untukku
bising dari tawarmenawar katakata
bising dari memboroskan puisi
dan kau kerasan duduk seperti pedagang yang tangguh

sampai di sebuah sepi kupakai formula dari penyair itu untuk membuat puisi
dijamin bisa nembus harian nasional katanya
tapi puisi itu tak bisa berjalan
tertatih tersenggalsenggal
dan ambruk sebelum waktunya berdiri

akhirnya kita sepakat lagi bertemu di sebuah pasar
yang becek dengan katakata
yang bising dengan dengungan puisipuisi
yang penuh kalimatkalimat tak sedap

kujumpai penyair itu sedang sibuk dirubung pelanggan
"ayo sapa lagi murahmurah bualnya" menawarkan katakata

"formulanya kok gak manjur?" bisikku padanya ketika sudah rada sepi
"puisiku gak nembus gawang redaksi tuh?"
ia menjawab tapi suaranya tertelan gaduh pasar
ia bersuara tapi katakatanya tergelincir diantara tawarmenawar
ia berkatakata tapi hanya gaung yang kutangkap
aku menelan ludah dengan berat
tak ada yang dapat dirisaukan lagi
sayup terdengar suara penyair itu
"sudah pulanglah baca puisiku di koran minggu ya"

Jumat, 25 Desember 2009

apakah ia merindukan hujan

rintikrintik hujan yang jatuh itu seperti jerit sang kekasih yang cerewet dan menolak apa saja tapi kau cukup pintar untuk membiarkannya jemu di halaman berdecakdecak dalam rindu yang makin absurd dan sendiri membasahi dedaunan sampai kau menyesal dan kau keluar sambil membawa payung yang tak pernah kau buka

sore itu kamu basah kuyup tapi tak mau beranjak menikmati air yang menetesnetes dimukamu membiarkan ia yang kangen menyapamu menyelimutimu dan menggigilkanmu sampai ia puas dan meninggalkanmu dalam rasa hampa yang asing

Kamis, 24 Desember 2009

mata yang mengembara

kau menatapku dengan kosong kelopak matamu seperti menyimpan pintu terbuka
matamu sepi dan tak pernah diketukketuk tamu tak pernah ada orang ingin mampir menanyakan kabarmu "sampai dimana? letihkah dirimu? sekarang musim apa?" lalu orangorang melupakanmu

akhirnya mata itu mengembara dan tak pernah kembali meninggalkan mu dalam bengong dan lusuh

Selasa, 22 Desember 2009

pelahapmata

ia yang selalu memandang matamu mematamataimu menginginkanmu dalam gerak yang senantiasa terbaca ia memandangmu dan tak mau melepas pandangannya seperti menginginkan matamu di meja makan mungkin ia seorang pelahap mata seorang yang selalu mengincar matamata seseorang yang menandai kerlap atau binar matamu dalam sesal dan ingin segera menyantap sepasang matamu tak habishabis

ia hanya menginginkan matamata yang keruh matamata yang mendung matamata yang selalu banjir maka pertahankan kedip matamu matamata yang penuh munafik matamata yang memandang licik dan mengintai matamata yang ingin menerkam teman matamata yang ingin melahap apasaja kecuali dirimu matamata kanak yang polos tetapi menipu

Senin, 21 Desember 2009

aku memandang matamu

aku memandang matamu kian mengeruh sedang musim apa disana sudah waktunya untuk bercocok tanam bagaimana dengan kerbau piaraanmu apakah siap untuk membajak sawahsawah kita yang dulu kerap kita perbincangkan

selalu musim hujan dimatamu

itu romantis tempat angan segala musim merontokkan daundaun tempat mimpi tanahtanah mengering dan retak tunggu aku disana akan kuketuk pelan kala kau terjaga semoga binar matamu menjadikan jalan bagiku berhujanhujan berlarian sepanjang gang mengganggu orangorang yang berteduh

kau tahu kita tak butuh payung tapi aku hanya ingin memelukmu saja itu pun kalau kau mau

Minggu, 20 Desember 2009

sebuah label yang terkutuk katamu

aku mengelus mataku yang mulai berkabut senja dihari minggu katamu tentang kotakota yang bergegas dan para penganggur yg memandang segala yang lewat juga aku yang menunggu dengan sabar mengusap muka berulangkali sambil berharap kelahiran nabinabi baru kau penyair terkejam yang kukenal mencacah kata merajam ingatan menyudutkan cuaca mendramatisir keadaan kau hidangkan sebagai puisi yang tak juga beranjak dari puisipuisi yang kemarin
kemudian linu menerjang diamdiam dalam sandiwara ketakacuhan ini
semoga kau baikbaik saja semoga lekas sembuh ini kumpulan puisi terakhir yang dapat kau peroleh dari ketakabadian pulang lalu bersedakeplah mewartakan diri telah sunyi dan lebam

jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...