jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada jawaban lain dari anda yang lebih keren?
Minggu, 06 Januari 2019
sajak itu ingin menggambarkan jarak sepi dan kematian
pada jarak adalah sesuatu yang absurd
aku dan kau mungkin hanya sedepa secara fisik tapi hati kita berjarak puluhan hari
aku dan kau mungkin bisa berpelukan tapi hati kita saling menjauh
dan penyair itu sama seperti mu
ingin memeluk katakata tapi tak pernah sampaisampai
kadang ia tak menginginkan sepi itu terus menguntitnya
mematamatai dalam segala gerakgerik dan kemudian melayu
pada sepi ia bisa menjadi dirinya sendiri
dan ia hanya berbuat yang tidaktidak menyediakan waktu dan diam
sampai kematian akan mengetuk pelan
menggerogoti kerinduankerianduanmu
sampai kemudian kau akan merasa sangat terhina dengan sajak yang ituitu saja
dan menumpuknya dipinggir seperti menunggu datangnya dengan begitu wajar
Rabu, 01 Agustus 2012
sebuah masjid berkubah ungu
di lantai masjid ia mencium keramik
yang serupa cermin
yang memantulkan wajah kembaran mu
juga cahaya yang dahulu pernah jauh berpisah
ia merasa dalam dirinya ada sebuah masjid
dengan telaga di depan pintu nya
dan ia menyelam sampai dasar
sebuah hati berwarna merah
berdebar
bisa kau tangkap
sebuah hati berwarna merah
berdebar
bisa kau tangkap
dalam lingkaran bergelombang
yang semakin jauh dan samar
kau kembali bergetar
dalam riakriak air dari masa lalu
terus memanggilmanggil
untuk sujud
rebah di bumi mencium tanah
rebah di bumi mencium tanah
rebah di hati mendekap darah
di belahan bumi kembarannya
yang dulu berpisah dan ditolaknya
menjelma kubah
menjelma tiangtiang tinggi
mengajakmu terus bersujud
mengajakmu terus bersujud
dalam naungan kubah ungu
terbuat dari hati mu sendiri
yogya agustus 2012
Jumat, 06 Juli 2012
tukang keramik dalam dirimu
seperti dendam ia menekan bidang pipih di hadapannya
yang selalu kau pijak itu
yang selalu kau pijak itu
telah terukur dalam benak
presisi dalam tiap tarikan nafas
kau lelap dalam kepastian
seperti rindu yang harus dilampiaskan
itu bara api dalam kotak kotak presisi
di dadamu beringsut lesu
wajah murung tak terpasang sempurna
ada masa depan yang retak
kau terpelanting sendiri
kita hanyalah tukang dalam hidup yang berkeringat
berusaha memasang kotak keramik
untuk pijakan yang lapang
sedang engkau masih labil
semacam adukan semen mentah
yang akan terus memperondakan lantai
tapi kita adalah sepasang kekasih
yang terus menerus cemburu dan ingkar
yogya juli 2012
Rabu, 18 April 2012
bercerita nenek tentang pintu
bercerita nenek tentang pintu
yang tak pernah dia buka
yang berkarat dalam darahku
yang menanyakan asal usul ibu anak dari nenekku
yang kini pikun mencari kunci
atas jawaban pertanyaanpertanyaan
dari dunia yang hendak ditinggalkan
membuka perlahan
dengan derit yang tertahan
dari ribuan waktu yang malas enggan berjalan
pintu itu masih terbuka sejak adam membukanya
nenek menganggapnya demikian
menunggu engkau datang
mengundang mu ketika
kau tenggelam dalam jam yang jemu
saudara nenekku pernah kesana dan tak lagi bisa bersua
kakek hanya meninggalkan
linangan air mata
pintu itu setia menunggumu
menjanjikan tempat untuk bersuka
yang kini belum diinginkannya
nenek masih ingin menatap kau tumbuh
mengotori dan mencoretcoret hati
menunggu kanvas mu menjadi putih kembali
berpesan nenek padamu
jangan engkau kesana
sebelum menanam bungabunga
mesti terlihat angkuh
ia selalu terbuka untuk kau datangi
dengan waspada
seperti ular yang mengggoda adam
ia kerap membisikkan beratnya memanggul waktu
dihari hari tua dengan tubuh yang menyusut
juga kesehatan yang buruk
kadang pintu itu seolah melambai
memanggilmanggil seperti suara ibunya ketika kecil
menggigilkan darahmu
membangkitkan romantisme
dalam melodrama
dalam tragika
dalam tragika
yang menutup membuka aliran leher dan kepala
dalam urat kelamin
kita bersandiwara
kita bersandiwara
bermain gelap terang
ketika kau terpejam dalam ambang keterjagaan
pintu nenek selalu terbuka menerima kedatanganmu
dalam rasa bosan atas kesiasiaan waktu yang terus
berpurapura
Kamis, 22 Maret 2012
pinokio dan bonekaboneka berbi
ini kah yang kau sebut boneka boneka itu
berbie yang cantik tersenyum tanpa jiwa
diberikannya kunci kamar kecilnya
"ini kunci kamarku bongkah lumut dan batu batu.
aku takluk pada tubuh batu sempurna mu"
kenangan kenangan cengeng pun mengamuk
sepanjang ingatan pantaipantai pegununganpegunungan
masa kanakku ku gambar ku lukis tebal disitu
ii
kaulah yang melepas mahkota perawan dengan tergesa
leleki cengeng dengan jengkerik dan belalang yang menjadi teman
berlari meninggalkan pengasuhnya
kukenang saat dahanmu menawar gelisah dan hausku
akan raba akan peluk akan hempaskan ku di ranjang
mengelus menimang dan menelanjangi
aku tlah siap
sebentuk fisik sempurna tanpa cacat
kecuali retak itu
bantu aku membungkamnya rapat rapat
iii
apa yang dicari apa yang kau bisa
lelaki kecil penurut berbohong pada pengasuhnya
jengkerik dan belalang pergi mati oleh pestisida
disorongkan diangkatnya wajah dikatakannya mendesah
"berbi berbi bonekaku pendosaku kemarilah tuntaskan segala resah"
iv
memujamu marilah
segala tubuh sempurna tanpa jiwa kecuali rapuh
juga serombongan nama nama di belakang malam masih menunggu
tangan tangan menimang membimbing mengelus
untuk kunci kecil di tangan kecilmu
bukan lagi dimata boneka
sebuah upaya menjadi boneka
ada pernah datang padamu sebagai sebatang kayu?
yang mememinta, pahatlah aku dengan sempurna
yang memohon, kutuklah aku menjadi sempurna
hamparkan padanya tanganmu tangan yang lemah tak punya tenaga
hamparkan padanya bibirmu bibir yang tak punya wibawa
ia akan kembali berkelana menawarkan hati
dari kursi ke kursi
belajar menawarkan diri
belajar bertutur kata dengan wajah polos tanpa dosa
tapi angie
kau telah sempurna dan terkutuk menjadi boneka
kau boleh berbuat apa saja karena itu tak lagi berdosa
bila kau ditanya tentang bagaimana cara menjadi boneka
maka katakan saja lupalupalupa
maka katakan saja tidaktahu tidaktahu tidaktahu
letakkan di lemari kaca taruh dirimu di sana
kau telah sempurnakan dirimu menjadi boneka
Selasa, 17 Januari 2012
jembatan layang janti
jalan ini kekasih tak seperti jalan yang kita lewati
harus menunggu palang pintu kereta
aku tidak pernah mau tahu kemana melintasnya kereta
kemana mereka hendak menuju
(siapa saja mereka dan siapa yang mengantarnya)
mari kita gumamkan kesalnya menunggu
dan waktu yang menikam kita
atau kita nikmati pemandangan senja
dari sudut ini senja seperti kartu pos lama berwarna sepia
yang tak pernah kau kirim dan tak pernah aku terima
dapat juga kau bayangkan senja adalah jendela
tempat malaikatmalaikat iseng mendongakkan kepala
mengolokolok kita yang sering berkeluh tentang waktu
dan kita ditinggalkan selekas kereta yang bergegas
menuju jakarta
besok kita kembali bertemu
kita tidak usah melewati jalan ini
di sini senja terlalu tawar untuk kita perbincangkan
kala waktu menunggu di palang kereta kala waktu mengejarngejar kita
yogya 16 januari 2012
harus menunggu palang pintu kereta
aku tidak pernah mau tahu kemana melintasnya kereta
kemana mereka hendak menuju
(siapa saja mereka dan siapa yang mengantarnya)
mari kita gumamkan kesalnya menunggu
dan waktu yang menikam kita
atau kita nikmati pemandangan senja
dari sudut ini senja seperti kartu pos lama berwarna sepia
yang tak pernah kau kirim dan tak pernah aku terima
dapat juga kau bayangkan senja adalah jendela
tempat malaikatmalaikat iseng mendongakkan kepala
mengolokolok kita yang sering berkeluh tentang waktu
dan kita ditinggalkan selekas kereta yang bergegas
menuju jakarta
besok kita kembali bertemu
kita tidak usah melewati jalan ini
di sini senja terlalu tawar untuk kita perbincangkan
kala waktu menunggu di palang kereta kala waktu mengejarngejar kita
yogya 16 januari 2012
Senin, 28 November 2011
apakah di kotamu masih turun hujan
apakah laut disana masih selalu memanggilmanggil
apakah rimbun dedaunan di belakang rumahmu masih penuh burungburung
yang berpasangan
yang terbang susulmenyusul
yang melantun sautmenyahut bergantian
aku masih membenci kotamu
dan mengutuk orangorang didalamnya
tapi tidak untukmu juga percakapan kita
tentang keliaranmu bertutur
tentang angananganmu yang memantulmantul dilangit kotamu
tentang bumi yang menurutmu sudah lelah menahan beban kita
lalu januari,
seperti kawan lama akan datang berkunjung
kita tibatiba merasa tua dan membosankan
atau kau sudah tidak bisa membuatku tertawa
ceritakan padaku tentang sebuah pulau
yang dijaga laut
katamu konon aku pernah tersesat di dalamnya
lalu kau datang, menyamar sebagai raksasa
tapi itu terlalu tragis
aku ingin hidup yang entengenteng saja
tertawa dalam sinetron juga dalam lagulagu pop
tapi ini hanyalah katakata
yang berangkat menua
yang sebentar lagi ditinggalkan
lalu diamdiam kita akan sendiri gemetar
mulai mengutuk semua orang, kotakota kenangan,
waktu yang berlarian menyeretnyeretmu
lalu aku akan kembali bertanya
tentang cuaca di kotamu
kabar samudra yang mengelilingi pulau mu
perdu disamping rumah juga burungburung yang jinak itu
dengan tawar
dengan pahit
dengan rasa yang dingin
Rabu, 05 Januari 2011
sepasang mata senja
sepasang mata senja
seperti janjinya senja itu datang tepat waktu
dibatas kota kita akan bertemu berdekapan seperti sepasang kekasih
mata memandang mata mengukur jarak
dan hampirhampir aku tidak mengenalmu
aku kini kusam kehilangan warna kau bungkuk dan pikun
(atau dapat kita balik bila kau menginginkannya)
kau terus bergumam tentang orangorang yang tak lagi kau kenal
aku bersenandung saja tentang"hampir malam di yogya" sampai lelah dan
mengantuk
penyair itu tergagap dari mimpi
masih sayup didengarnya penggal sebuah lagu
"lindungi aku pahlawan dari pada sang angkara murka"
bergegas ia ingin menulis puisi tentang sebuah kota tanpa menggunakan
kata kenangan dan namanama lalu menghapus semua ingataningatan
**********************
nawangwulan
dia memandang dari tubir wajah yang pernah dikenal
jauh hari mungkin berpapasan di sebuah cermin dengan pigura kayu yang
pernah dilihatnya di toko barang antik
yang berpendar dikedalaman itu menyadarkannya akan hijau memanjang
bergelombang dari sebuah lingkaran yang menawan
juga rimbun pakupakuan dan bermacam insekta
beri aku cinta beri aku cinta
ia menyebutkan permintaan sebuah koin yang kelak dilempar pada
kembarannya
sepi memunguti nasib
ia membuka baju berjalan menenggelamkan diri dalam lumut ganggang ikan
kecebong dan katak menunggu sampai engkau tiba
Selasa, 16 Februari 2010
“ Aku boneka engkau boneka
penghibur dalang mengatur tembang”
aku membencimu seperti membenci diriku
seseorang yang hilang dalam pikiranpikiran instan
sayaplah yang membuat burung terbang
dan katakata mu ingin mengepakkepak bertengger dari puisi ke puisi
mampir dan mengetuk dirimu yang sedang sepi
ayolah sesekali kita mengahancurkan diri dan tertawa abadi di dalam hurufhuruf yang melawanmu seharihari
“meski terlanjur revolusi?” tanyamu “mengapa lamban dan perlahan” bantahku
ini hanya sekumpulan kata yang bocor dan ingin diperhatikan
tatap baikbaik penyair itu yang berjumpalitan yang mencoba tidak tenggelam
“berikan nafas buatan, berikan nafas buatan, untukku”
sosok pemintaminta tak kenal akan diri sendiri seseorang yang ingin jenius tapi tak sampaisampai dan tampak tolol dipinggiran jaman dan terus meminta keabadian
ini hanyalah pasar
ini hanyalah iklan
ini hanyalah soal citra diri yang diperjualbelikan lewat katakata
lalu kau sebut dengan tergesa ini puisi yang membenci dirinya sendiri
penghibur dalang mengatur tembang”
aku membencimu seperti membenci diriku
seseorang yang hilang dalam pikiranpikiran instan
sayaplah yang membuat burung terbang
dan katakata mu ingin mengepakkepak bertengger dari puisi ke puisi
mampir dan mengetuk dirimu yang sedang sepi
ayolah sesekali kita mengahancurkan diri dan tertawa abadi di dalam hurufhuruf yang melawanmu seharihari
“meski terlanjur revolusi?” tanyamu “mengapa lamban dan perlahan” bantahku
ini hanya sekumpulan kata yang bocor dan ingin diperhatikan
tatap baikbaik penyair itu yang berjumpalitan yang mencoba tidak tenggelam
“berikan nafas buatan, berikan nafas buatan, untukku”
sosok pemintaminta tak kenal akan diri sendiri seseorang yang ingin jenius tapi tak sampaisampai dan tampak tolol dipinggiran jaman dan terus meminta keabadian
ini hanyalah pasar
ini hanyalah iklan
ini hanyalah soal citra diri yang diperjualbelikan lewat katakata
lalu kau sebut dengan tergesa ini puisi yang membenci dirinya sendiri
Selasa, 09 Februari 2010
untuk kita para pembaca puisi
aku membeli dirimu di toko buku harum aroma kertas membuatku ngantuk
kita kencan bersama seharian dalam melodrama novel percintaan
aku merasa pedih lalu kemudian diam
aku terbangun dan tergagap dikerumunan katakata yang menguap katakata yang mengantuk katakata yang berangkat tidur
segerombolan katakata yang lain telah berangkat
ada yang sedih dan merasa terkutuk ada yang riang melompatlompat ada yang meringkuk dan bungkuk
mereka terlihat lelah berdansa katakata membongkarpasang mencocokcocokkan nada dan irama “aku remuk “ desisnya menggerutu pada sang sutradara
tapi penyair itu tak pernah datang pada janjijanji
lalu kita menguburkannya dengan layak dan diamdiam
sampai waktu menjadi kumal dalam diri kita pembacapembaca puisi yang tak setia
dan kau lihat seseorang yang pergi sedikit terluka
kita kencan bersama seharian dalam melodrama novel percintaan
aku merasa pedih lalu kemudian diam
aku terbangun dan tergagap dikerumunan katakata yang menguap katakata yang mengantuk katakata yang berangkat tidur
segerombolan katakata yang lain telah berangkat
ada yang sedih dan merasa terkutuk ada yang riang melompatlompat ada yang meringkuk dan bungkuk
mereka terlihat lelah berdansa katakata membongkarpasang mencocokcocokkan nada dan irama “aku remuk “ desisnya menggerutu pada sang sutradara
tapi penyair itu tak pernah datang pada janjijanji
lalu kita menguburkannya dengan layak dan diamdiam
sampai waktu menjadi kumal dalam diri kita pembacapembaca puisi yang tak setia
dan kau lihat seseorang yang pergi sedikit terluka
Kamis, 28 Januari 2010
membangkitkan kata yang terlanjur muram
kekasihku katakata yang terburuburu
lihatlah aku mulai menua dari sudut pandang pesakitan renta
pemamah katakata yang tak pernah jemu untuk mengajakmu berdansa
mengajakmu menarikan laju kereta dengan penumpang saling berpegangan dan juga tanya “siapa dia yang selalu mengajakmu menikmati rasa diburuburu ?”
aku menjadi tersangka dan bodoh di pinggir jalanan
meneriakkan kotakota yang ingin kau singgahi
merasakan detak jantungnya di pusat muram katakata
kini engkaulah merak dari hutan baluran
kini engkaulah penari kraton jawa
kini engkaulah semesta yang terdiam
maka menarilah kasihku menarilah anggun elok dan tak terburuburu
dalam susunan katakata yang tak cemas akan masa depannya
menarilah semampu kau bisa sejauh kau ingin
dalam tumpukan melodrama ini
lihatlah aku mulai menua dari sudut pandang pesakitan renta
pemamah katakata yang tak pernah jemu untuk mengajakmu berdansa
mengajakmu menarikan laju kereta dengan penumpang saling berpegangan dan juga tanya “siapa dia yang selalu mengajakmu menikmati rasa diburuburu ?”
aku menjadi tersangka dan bodoh di pinggir jalanan
meneriakkan kotakota yang ingin kau singgahi
merasakan detak jantungnya di pusat muram katakata
kini engkaulah merak dari hutan baluran
kini engkaulah penari kraton jawa
kini engkaulah semesta yang terdiam
maka menarilah kasihku menarilah anggun elok dan tak terburuburu
dalam susunan katakata yang tak cemas akan masa depannya
menarilah semampu kau bisa sejauh kau ingin
dalam tumpukan melodrama ini
Senin, 25 Januari 2010
suatu sore dengan katakata yang menjauh
aku menginginkan puisi datang pelanpelan seperti gerimis di kotamu
aku membayangkan ia yang akan membuatmu basah
kau akan menggigil semalaman mengutuk puisi yang terus merubungmu dalam sisasisa rasa sentimentil
kau enggan berbagi, katakata murung pergi tak sempat kau rekam
kau memagutku pelan dalam debardebar yang melemah
lalu aku kau juga sore menatap katakata yang menjauh dalam semburatsemburat sinar matahari di batas mata memandang
kita samasama tersuruk sesal dan saling mengutuk
detik itu, puisi cinta secara resmi telah ditutup
aku membayangkan ia yang akan membuatmu basah
kau akan menggigil semalaman mengutuk puisi yang terus merubungmu dalam sisasisa rasa sentimentil
kau enggan berbagi, katakata murung pergi tak sempat kau rekam
kau memagutku pelan dalam debardebar yang melemah
lalu aku kau juga sore menatap katakata yang menjauh dalam semburatsemburat sinar matahari di batas mata memandang
kita samasama tersuruk sesal dan saling mengutuk
detik itu, puisi cinta secara resmi telah ditutup
Sabtu, 23 Januari 2010
aku bertemu penyair palsu di sebuah pasar
akhirnya kita sepakat bertemu di sebuah pasar
tempat jual beli barang katamu
tempat tawar menawar menurutku
"ayo perlihatkan puisimu"
ia ragu mengeluarkan keranjang puisinya bermacammacam gaya telah ia kumpulkan dari jaman pantun sampai khairil dari jaman soneta sampai jokpin dibungkus rapi
"kamu mau yang mana?" tanya penyair itu
sebenarnya aku hanya ingin puisi yang sederhana semacam pertanyaan ini
apakah hujan ada ditempatmu
apakah kau baikbaik saja
apakah rindu itu masih kau rawat
apakah laci di mejamu masih tertutup rapat
apakah air masih menggenang di sana
tapi pasar terlalu bising untukku
bising dari tawarmenawar katakata
bising dari memboroskan puisi
dan kau kerasan duduk seperti pedagang yang tangguh
sampai di sebuah sepi kupakai formula dari penyair itu untuk membuat puisi
dijamin bisa nembus harian nasional katanya
tapi puisi itu tak bisa berjalan
tertatih tersenggalsenggal
dan ambruk sebelum waktunya berdiri
akhirnya kita sepakat lagi bertemu di sebuah pasar
yang becek dengan katakata
yang bising dengan dengungan puisipuisi
yang penuh kalimatkalimat tak sedap
kujumpai penyair itu sedang sibuk dirubung pelanggan
"ayo sapa lagi murahmurah bualnya" menawarkan katakata
"formulanya kok gak manjur?" bisikku padanya ketika sudah rada sepi
"puisiku gak nembus gawang redaksi tuh?"
ia menjawab tapi suaranya tertelan gaduh pasar
ia bersuara tapi katakatanya tergelincir diantara tawarmenawar
ia berkatakata tapi hanya gaung yang kutangkap
aku menelan ludah dengan berat
tak ada yang dapat dirisaukan lagi
sayup terdengar suara penyair itu
"sudah pulanglah baca puisiku di koran minggu ya"
tempat jual beli barang katamu
tempat tawar menawar menurutku
"ayo perlihatkan puisimu"
ia ragu mengeluarkan keranjang puisinya bermacammacam gaya telah ia kumpulkan dari jaman pantun sampai khairil dari jaman soneta sampai jokpin dibungkus rapi
"kamu mau yang mana?" tanya penyair itu
sebenarnya aku hanya ingin puisi yang sederhana semacam pertanyaan ini
apakah hujan ada ditempatmu
apakah kau baikbaik saja
apakah rindu itu masih kau rawat
apakah laci di mejamu masih tertutup rapat
apakah air masih menggenang di sana
tapi pasar terlalu bising untukku
bising dari tawarmenawar katakata
bising dari memboroskan puisi
dan kau kerasan duduk seperti pedagang yang tangguh
sampai di sebuah sepi kupakai formula dari penyair itu untuk membuat puisi
dijamin bisa nembus harian nasional katanya
tapi puisi itu tak bisa berjalan
tertatih tersenggalsenggal
dan ambruk sebelum waktunya berdiri
akhirnya kita sepakat lagi bertemu di sebuah pasar
yang becek dengan katakata
yang bising dengan dengungan puisipuisi
yang penuh kalimatkalimat tak sedap
kujumpai penyair itu sedang sibuk dirubung pelanggan
"ayo sapa lagi murahmurah bualnya" menawarkan katakata
"formulanya kok gak manjur?" bisikku padanya ketika sudah rada sepi
"puisiku gak nembus gawang redaksi tuh?"
ia menjawab tapi suaranya tertelan gaduh pasar
ia bersuara tapi katakatanya tergelincir diantara tawarmenawar
ia berkatakata tapi hanya gaung yang kutangkap
aku menelan ludah dengan berat
tak ada yang dapat dirisaukan lagi
sayup terdengar suara penyair itu
"sudah pulanglah baca puisiku di koran minggu ya"
Jumat, 25 Desember 2009
apakah ia merindukan hujan
rintikrintik hujan yang jatuh itu seperti jerit sang kekasih yang cerewet dan menolak apa saja tapi kau cukup pintar untuk membiarkannya jemu di halaman berdecakdecak dalam rindu yang makin absurd dan sendiri membasahi dedaunan sampai kau menyesal dan kau keluar sambil membawa payung yang tak pernah kau buka
sore itu kamu basah kuyup tapi tak mau beranjak menikmati air yang menetesnetes dimukamu membiarkan ia yang kangen menyapamu menyelimutimu dan menggigilkanmu sampai ia puas dan meninggalkanmu dalam rasa hampa yang asing
sore itu kamu basah kuyup tapi tak mau beranjak menikmati air yang menetesnetes dimukamu membiarkan ia yang kangen menyapamu menyelimutimu dan menggigilkanmu sampai ia puas dan meninggalkanmu dalam rasa hampa yang asing
Kamis, 24 Desember 2009
mata yang mengembara
kau menatapku dengan kosong kelopak matamu seperti menyimpan pintu terbuka
matamu sepi dan tak pernah diketukketuk tamu tak pernah ada orang ingin mampir menanyakan kabarmu "sampai dimana? letihkah dirimu? sekarang musim apa?" lalu orangorang melupakanmu
akhirnya mata itu mengembara dan tak pernah kembali meninggalkan mu dalam bengong dan lusuh
matamu sepi dan tak pernah diketukketuk tamu tak pernah ada orang ingin mampir menanyakan kabarmu "sampai dimana? letihkah dirimu? sekarang musim apa?" lalu orangorang melupakanmu
akhirnya mata itu mengembara dan tak pernah kembali meninggalkan mu dalam bengong dan lusuh
Selasa, 22 Desember 2009
pelahapmata
ia yang selalu memandang matamu mematamataimu menginginkanmu dalam gerak yang senantiasa terbaca ia memandangmu dan tak mau melepas pandangannya seperti menginginkan matamu di meja makan mungkin ia seorang pelahap mata seorang yang selalu mengincar matamata seseorang yang menandai kerlap atau binar matamu dalam sesal dan ingin segera menyantap sepasang matamu tak habishabis
ia hanya menginginkan matamata yang keruh matamata yang mendung matamata yang selalu banjir maka pertahankan kedip matamu matamata yang penuh munafik matamata yang memandang licik dan mengintai matamata yang ingin menerkam teman matamata yang ingin melahap apasaja kecuali dirimu matamata kanak yang polos tetapi menipu
ia hanya menginginkan matamata yang keruh matamata yang mendung matamata yang selalu banjir maka pertahankan kedip matamu matamata yang penuh munafik matamata yang memandang licik dan mengintai matamata yang ingin menerkam teman matamata yang ingin melahap apasaja kecuali dirimu matamata kanak yang polos tetapi menipu
Senin, 21 Desember 2009
aku memandang matamu
aku memandang matamu kian mengeruh sedang musim apa disana sudah waktunya untuk bercocok tanam bagaimana dengan kerbau piaraanmu apakah siap untuk membajak sawahsawah kita yang dulu kerap kita perbincangkan
selalu musim hujan dimatamu
itu romantis tempat angan segala musim merontokkan daundaun tempat mimpi tanahtanah mengering dan retak tunggu aku disana akan kuketuk pelan kala kau terjaga semoga binar matamu menjadikan jalan bagiku berhujanhujan berlarian sepanjang gang mengganggu orangorang yang berteduh
kau tahu kita tak butuh payung tapi aku hanya ingin memelukmu saja itu pun kalau kau mau
selalu musim hujan dimatamu
itu romantis tempat angan segala musim merontokkan daundaun tempat mimpi tanahtanah mengering dan retak tunggu aku disana akan kuketuk pelan kala kau terjaga semoga binar matamu menjadikan jalan bagiku berhujanhujan berlarian sepanjang gang mengganggu orangorang yang berteduh
kau tahu kita tak butuh payung tapi aku hanya ingin memelukmu saja itu pun kalau kau mau
Langganan:
Postingan (Atom)
jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...
-
seperti dendam ia menekan bidang pipih di hadapannya yang selalu kau pijak itu telah terukur dalam benak presisi dalam tiap tarikan...
-
di lantai masjid ia mencium keramik yang serupa cermin yang memantulkan wajah kembaran mu juga cahaya yang dahulu pernah jauh berpisa...
-
jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...
