tentang kedip di kejauhan itu yang mengedip pelanpelan mungkin hanya sebagai isyarat
dirimu yang menua dan ditinggallkan
kau pikir ia hanyalah sebuah pesan singkat yang akan menjadi sajak
dalam katakata yang dituliskannya tidak pernah kau baca
dan kau berusaha keras menggapaigapainya demi sebuah perasaanperasaan cengeng
dikedip itu
ia ingin mendengar seseorang berbisik seperti rerumputan yang saling bergesek
ia ingin menatap seseorang berciuman seperti sepasang merpati muda kasmaran
dalam sebuah rumah yang hangat
tapi ada yang mengganjal setelah menatap lamalama
aku pikir itu engkau dengan matamu hitam matamu merah dan selalu melambai untuk mengajakku jalanjalan di guagua terdalam di tempattempat penjagalan di tempat yang mana dunia akan selalu gelap dan gempagempa akan senantiasa datang
aku membayangkan gempa datang dengan pelan lirih seperti ketukan pintu yang akan membuatmu terjaga semalaman
aku mengangankan gempa datang kenegerimu membuat rumahrumah hancur
kau akan saling mencaci dan mengutuk pemerintah yang tak becus
dan aku akan terusmenerus bilang hore
lalu ia memandang lagi kedip di kejauhan itu dan beranggapan bahwa ia hanyalah sesuatu yang tidak bisa digapainya seperti keinginannya untuk menggapai sebuah sajak yang baik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...
-
seperti dendam ia menekan bidang pipih di hadapannya yang selalu kau pijak itu telah terukur dalam benak presisi dalam tiap tarikan...
-
di lantai masjid ia mencium keramik yang serupa cermin yang memantulkan wajah kembaran mu juga cahaya yang dahulu pernah jauh berpisa...
-
jika anda sebuah puisi dan seseorang yang berpapasan menanyakan alamat puisi, apa yang akan anda jawab? menunjuk ke pemakaman umum atau ada...
2 komentar:
setelah sekian waktu
kembali mengun jungimu sobat ..
setelah sekian waktu
kembali mengun jungimu sobat ..
Posting Komentar